- HOME
- PROFIL
- PPID
- BERITA
- KESISWAAN
- GALERI
- INFORMASI
- INTERAKSI
- E-BOOK
×

Di pagi yang penuh berkah ini, keluarga besar SMP Negeri 115 Jakarta berdiri bersama dalam satu barisan, merasakan keagungan hari yang mulia — Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Bukan sekadar perayaan, melainkan sebuah momentum untuk merenungi makna terdalam dari pengabdian, keikhlasan, dan cinta.
فَصَلِّ لِرَبِّكَ
وَانْحَرْ
“Maka
laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.”
QS. Al-Kautsar: 2
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil
hamd.
Di pagi yang penuh berkah ini, keluarga
besar SMP Negeri 115 Jakarta berdiri bersama dalam satu barisan, merasakan
keagungan hari yang mulia — Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Bukan sekadar
perayaan, melainkan sebuah momentum untuk merenungi makna terdalam dari
pengabdian, keikhlasan, dan cinta.
Tiga
Rangkaian Makna Hari Ini
|
🕌 Sholat Idul Adha Di lapangan upacara |
🐄 Pemotongan Hewan Qurban Meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim AS |
🤝 Pembagian Daging Qurban Berbagi kepada yang berhak |
♥ Ketika Lapangan Menjadi Tempat Sajadah
Pagi ini, lapangan upacara kita bukan
sekadar hamparan tanah tempat barisan siswa berbaris. Ia menjelma menjadi
hamparan sajadah besar tempat kita bersama — guru, staf, dan segenap warga
sekolah — bersujud menghadapkan diri kepada Allah SWT. Setiap takbir yang
terucap adalah pengakuan: tidak ada yang lebih besar dari-Nya. Tidak ada
pencapaian, jabatan, atau prestasi yang melebihi kebesaran-Nya.
Sholat berjamaah di lapangan ini
mengajarkan kita bahwa dalam kesetaraan, kita menemukan kekuatan. Tidak ada
perbedaan antara kepala sekolah, guru, dan petugas kebersihan. Semua berdiri
dalam satu shaf, satu niat, satu tujuan. Inilah Islam — agama yang memuliakan
persaudaraan.
♥ Pisau Qurban dan Pelajaran Tentang Keikhlasan
Ribuan tahun silam, Nabi Ibrahim AS
menerima perintah yang tampaknya mustahil — menyembelih putra tercintanya,
Ismail AS. Namun beliau tidak bertanya “mengapa?”. Beliau melangkah dengan iman
yang teguh dan hati yang ikhlas. Allah pun menggantikan Ismail dengan seekor
domba, sebab yang dinilai bukan darah atau daging hewan itu — melainkan
ketakwaan di dalam hati.
Hari ini, ketika pisau qurban diangkat,
kita diajak merenung: apakah kita sudah cukup ikhlas dalam peran kita
masing-masing? Ikhlas mendidik tanpa pamrih. Ikhlas belajar tanpa mengeluh.
Ikhlas berkhidmat untuk sesama, tanpa menunggu diakui. Inilah qurban
sesungguhnya yang kita persembahkan setiap hari.