- HOME
- PROFIL
- PPID
- BERITA
- KESISWAAN
- GALERI
- INFORMASI
- INTERAKSI
- E-BOOK
×

Setiap tanggal 23 Juli, bangsa Indonesia berhenti sejenak untuk merayakan sekaligus merenungkan satu hal yang sederhana namun mendasar: keberadaan anak-anak kita. Hari Anak Nasional (HAN) yang tahun ini memasuki peringatan ke-42 bukan sekadar seremoni tahunan yang lewat begitu saja.
Setiap
tanggal 23 Juli, bangsa Indonesia berhenti sejenak untuk merayakan sekaligus
merenungkan satu hal yang sederhana namun mendasar: keberadaan anak-anak kita.
Hari Anak Nasional (HAN) yang tahun ini memasuki peringatan ke-42 bukan sekadar
seremoni tahunan yang lewat begitu saja. Ia adalah momentum bagi seluruh elemen
bangsa, termasuk satuan pendidikan seperti SMP Negeri 115 Jakarta, untuk
kembali bertanya: sudahkah kita benar-benar menghadirkan sekolah yang aman,
ramah, dan membahagiakan bagi setiap murid?
Tema
besar HAN ke-42 Tahun 2026, “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan,”
membawa pesan yang tidak berhenti pada slogan. Tema ini menegaskan bahwa anak
bukan sekadar objek pembinaan, melainkan subjek pembangunan yang memiliki hak
untuk didengar, dihargai, dan dilibatkan sesuai usia dan kematangannya. Bagi
kita di lingkungan Smabel, pesan ini terasa dekat dengan keseharian: di ruang
kelas, di lapangan upacara, di kantin, hingga di ruang digital tempat anak-anak
kita berinteraksi setiap hari.
Sayang: Menempatkan Anak sebagai Pribadi yang Berharga
Kata
“sayang” dalam tema HAN tahun ini mengajak setiap guru, tenaga kependidikan,
dan orang tua untuk melihat setiap anak bukan sebagai angka pada daftar hadir,
melainkan sebagai pribadi yang berharga dengan cerita, kesulitan, dan
potensinya masing-masing. Rasa sayang ini diwujudkan lewat hal-hal kecil:
menyapa dengan hangat, mendengarkan keluhan tanpa menghakimi, serta memberi
ruang bagi murid untuk menyampaikan pendapat dan aspirasinya.
Lindungi: Tanggung Jawab Bersama Seluruh Warga Sekolah
Melindungi
anak adalah kewajiban seluruh pihak, dan sekolah menempati posisi strategis
sebagai rumah kedua setelah keluarga. Komitmen ini kita wujudkan melalui
lingkungan belajar yang bebas dari kekerasan, perundungan (bullying), dan
diskriminasi dalam bentuk apa pun — baik di dunia nyata maupun ruang digital.
Setiap warga Smabel, dari pimpinan sekolah hingga murid, memiliki peran untuk
saling menjaga, saling mengingatkan, dan berani bersuara ketika melihat sesuatu
yang tidak semestinya terjadi.
Bangun Masa Depan: Investasi Terbaik ada pada Setiap Anak
Peringatan
HAN mengingatkan kita bahwa investasi terbaik sebuah bangsa bukan semata pada
pembangunan fisik, melainkan pada anak-anak yang hari ini duduk di bangku
sekolah. Ketika SMP Negeri 115 Jakarta memastikan proses belajar yang bermutu,
penguatan karakter, dan pemenuhan hak setiap murid, sesungguhnya kita sedang
ikut membangun fondasi Indonesia Emas 2045 — satu bata kecil yang diletakkan
dari ruang kelas kita sendiri.
Nilai-nilai
dasar HAN ke-42 Tahun 2026 — Berakhlak Mulia, Bahagia, Peduli, Berani, Cerdas,
Solidaritas, Aman, dan Bertanggung Jawab — sejalan dengan semangat yang selama
ini kita jaga bersama di Smabel melalui identitas “Cerdas, Santun, Luar Biasa.”
Delapan nilai tersebut bukan daftar yang berdiri sendiri, melainkan fondasi
yang saling menguatkan: anak yang bahagia dan merasa aman akan lebih berani
mengembangkan kecerdasannya, dan anak yang peduli pada sesama akan tumbuh
menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan bertanggung jawab.
Melalui
Gerakan BERLIAN (Bersama Lindungi Anak), kita diajak untuk menjadikan
perlindungan anak sebagai budaya, bukan sekadar program musiman. Di lingkungan
SMP Negeri 115 Jakarta, semangat ini dapat diwujudkan lewat kegiatan sederhana
namun bermakna: upacara bendera yang khidmat, pembacaan Ikrar Pelajar
Indonesia, kegiatan literasi dan refleksi bersama, penguatan Gerakan 7
Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, hingga ruang bagi murid untuk menyampaikan
aspirasi dan harapannya.
Kepada
seluruh keluarga besar SMP Negeri 115 Jakarta — bapak dan ibu guru, tenaga
kependidikan, orang tua, serta 1007 murid dari 28 rombongan belajar — mari
jadikan Hari Anak Nasional ke-42 ini bukan sekadar seremoni satu hari,
melainkan pengingat yang terus hidup sepanjang tahun ajaran. Setiap anak berhak
aman dan bahagia, di rumah maupun di sekolah, di ruang kelas maupun di ruang digital.
Dan jika kelak ditanya bagaimana peran kita pada masa ini, biarlah jawabannya
adalah: kita telah bersama-sama menjaga, mendengarkan, dan menumbuhkan
anak-anak Indonesia menjadi generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan siap
membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih maju, adil, dan sejahtera.
Selamat
Hari Anak Nasional 2026
“Sayang
Anak, Sayang Indonesia”